"Ikhlas dan Syukur"

 Ikhlas

Kata Ikhlas dalam kamus besar bahasa Indonesia diartikan sebagai hati yang bersih (kejujuran), tulus hati (ketulusan hati) dan kerelaan. Sedangkan dalam tanqiyah asy-syai wa tahdzibuhu (mengosongkan sesuatu dan membersihkannya). Muhammad `Abduh mengatakan ikhlas adalah ikhlas beragama untuk Allah Swt. dengan selalu manghadap kepada-Nya, dan tidak mengakui kesamaan-Nya dengan makhluk apapun dan bukan dengan tujuan khusus seperti menghindarkan diri dari malapetaka atau untuk mendapatkan keuntungan serta tidak mengangkat selain dari-Nya sebagai pelindung.

Dalil

“Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut- nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati (Q.S. Al-Baqarah: 262)

“Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran Tinggi yang disiram oleh hujan lebat, Maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. jika hujan lebat tidak menyiraminya, Maka hujan gerimis (pun memadai). dan Allah Maha melihat apa yang kamu perbuat (Q.S. al-Baqarah: 265)

Contoh Perilaku

1. Membantu orangtua membersihkan rumah tanpa syarat seperti meminta uang jajan lebih.

2. Ikhlas dalam memberikan sedekah tanpa meminta imbalan dalam bentuk apapun.

3. Tidak mengungkit - ungkit kebaikan yang pernah kita berikan kepada orang lain.

4. Tidak melakukan suatu kebaikan atau memberi pertolongan dengan tujuan untuk mendapat pujian orang lain.

5. Ikhlas dalam beribadah semata - mata hanya karena ingin mengharap ridho Allah dan tidak karena ingin dianggap agamis oleh orang.


Syukur

Secara etimologi kata syukur berasal dari bahasa Arab yaitu syakara yang maknanya adalah pujian kepada manusia atas kebaikan yang diperoleh. Ar-Raghib al-Asfahani mengatakan bahwa kata syukur berarti gambaran dalam benak tentang nikmat dan menampakkannya ke permukaan. Hakikat syukur adalah respon positif atas kebaikan yang diperoleh kepada pihak yang memberikannya. Ini berarti syukur tidak akan muncul tanpa adanya usaha atau tindakan.

Dalil

"Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku." (Q.S Al-Baqarah: 152). 

"Dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain)" (Q.S Al- 'Ankabut: 45)

Contoh Perilaku

1. Tidak iri dengan apa yang didapatkan oleh orang lain.

2. Menjaga kesehatan tubuh.

3. Senantiasa mengucapkan Alhamdulillah dan merasa orang yang paling beruntung disetiap nikmat dan ujian yang diperoleh.

4. Tidak mengeluh atas sesuatu yang didapat namun tidak sesuai dengan keinginan kita.

5. Mengucapkan terimakasih kepada orang lain 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Biografi Saya

"Khauf dan Raja'"

"Tawadhu' dan Taqwa"