"Ma'rifat dan Ridha"

 Ma'rifat

Ma’rifat secara bahasa berarti pengetahuan atau pengenalan. Istilah ma’rifat berasal dari kata al-Ma’rifah yang berarti mengetahui atau mengenal sesuatu. Menurut Dr. Mustafa Zahri bahwa ma’rifat adalah ketetapan hati dalam mempercayai hadirnya wujud yang wajib adanya Allah yang menggambarkan segala kesempurnaannya. Dalam istilah sufi, ma’rifat diartikan sebagai pengetahuan mengenai Tuhan melalui hati (qalb). Pengetahuan itu sedemikian lengkap dan jelas sehingga jiwanya merasa menyatu dengan yang diketahuinya. Ma’rifatullah dapat dicapai dengan melakukan syari’ah, menempuh thariqah, dan memperoleh haqiqah.

Dalil

"Dan Allah telah menyempurnakan bagimu nikmat zahir dan nikmat batin." (Q.S Luqman: 20)

“Aku jadikan dalam rongga anak Adam itu mahligai dan dalam mahligai itu ada dada dan dalam dada itu ada hati (qalbu) namanya dan dalam hati (qalbu) ada mata hati (fuad) dan dalam matahati (fuad) itu ada penutupmatahati (saghaf) dan dibalik penutup mata hati (saghaf) itu ada nur/cahaya (labban), dan di dalam nur/cahaya (labban) ada rahasia (sirr) dan di dalam rahasia (sirr) itulah Aku kata Allah." (Hadis Qudsi)

Contoh Perilaku

Menggunakan dan menjaga alam bagi kesejahteraan manusia. Kembali kepada Allah swt, bertobat, memohon pertolongan dan pastikan diri kita tidak mengulangi perbuatan itu kembali. Setelah kita yakin kepada Allah swt mulailah membiasakan membuang smapah pada tempatnya.


Ridha

Kata ridha berasal dari kata radhiya-yardha-ridhwanan, yang berarti senang, puas, memilih persetujuan, menyenangkan, menerima. Dalam kamus bahasa Indonesia ridha memiliki arti rela, suka, senang hati, perkenan, dan rahmat. Ridha berarti menerima anugerah Allah swt dengan ikhlas dan tulus menerima ketentuan Ilahi.

Dalil

“Mereka akan bersumpah kepadamu, agar kamu ridha kepada mereka, tetapi jika sekiranya kamu ridha kepada mereka, Sesungguhnya Allah tidak ridha kepada orang-orang yang berbuat fasik." (Q.S At-Taubah: 96)

Contoh Perilaku

a. Bersabar dan menerima dengan lapang dada apabila mendapatkan cobaan dari Allah SWT.

b. Mensyukuri semua nikmat yang dianugerahkan, besar kecilnya nikmat atau rezeki tersebut dianggap sebagai ukuran yang terbaik menurut Allah SWT.

c. Ikhlas saat bersedekah atau berinfaq. Keikhlasan ini adalah wujud nyata keridhaan seseorang.

d. Tidak memelihara perasaan iri atau bahkan dengki pada kenikmatan yang diberikan Allah SWT kepada manusia lain. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Biografi Saya

"Khauf dan Raja'"

"Tawadhu' dan Taqwa"