"Tawadhu' dan Taqwa"

 Tawadhu'

Pengertian Tawadhu Secara etimologi, kata tawadhu berasal dari kata wadh’a yang berarti merendahkan, serta juga berasal dari kata “ittadha’a” dengan arti merendahkan diri. Tawadhu' menurut Imam Al-Ghazali adalah mengeluarkan kedudukanmu atau kita dan menganggap orang lain lebih utama daripada kita. Tawadhu’ artinya rendah hati, tidak sombong, lawan dari kata sombong atau takabur. Yaitu perilaku yang selalu menghargai keberadaan orang lain, perilaku yang suka memulyakan orang lain, perilaku yang selalu suka mendahulukan kepentingan orang lain, perilaku yang selalu suka menghargai pendapat orang lain.

Dalil

“Dan sebutlah (nama) Tuhannmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu Termasuk orang-orang yang lalai." (Q.S Al-A’raaf: 205).

"Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil." (Q.S Al-Israa’: 24)

Contoh Perilaku

-Berdoa kepada Allah.

-Patuh dan taat kepada orang tua.

-Tidak berbangga diri.


Taqwa

Menurut bahasa kata taqwa berasal dari waqaa-yaqii-wiqaayatan, struktur penyusunannya adalah huruf wa, qaf, dan ya. Dibaca waqaa,dengan arti menjaga dan menutupi sesuatu dari bahaya. Takwa terbagi menjadi 3 makna, yaitu:

1. Takut kepada Allah dan pengakuan superioritas Allah. Hal ini seperti kalam-Nya yang artinya, “Dan hanya kepada-Ku lah kamu harus bertakwa. (Al-Baqarah: 41)

2. Bermakna taat dan beribadah, sebagaimana kalamnya yang berarti, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benar takwa.” (Ali-Imran: 102)

3. Dengan makna pembersihan hati dari noda dan dosa. Maka inilah hakikat dari makna takwa, selain pertama dan kedua. Sebagaimana termaktub dalam irman-Nya; “Dan barangsapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya, takut kepada Allah dan bertakwa, maka itulah orang-orang yang beruntung.” (An-Nur: 52)

Dalil

“Dan hanya kepada-Ku lah kamu harus bertakwa. (Al-Baqarah: 41)

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benar takwa.” (Ali-Imran: 102)

“Dan barangsapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya, takut kepada Allah dan bertakwa, maka itulah orang-orang yang beruntung.” (An-Nur: 52)

Contoh Perilaku

-Rajin menunaikan ibadah baik itu sunnah maupun wajib.
-Selalu menolong sesama manusia yang berkekurangan.
-Selalu menyisihkan hartanya untuk bersedekah.
-Menjauhi hal-hal yang dilarang Allah dan mengerjakan amalan-amalan yang dicintai Allah.
-Sabar dalam menghadapi kesusahan, penderitaan, dan cobaan dalam hidup. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Biografi Saya

"Khauf dan Raja'"