"Tawakkal dan Mahabbah"
Tawakkal
Tawakkal bersal dari bahasa Arab yaitu wakila, yakilu, wakilan yang artinya “mempercayakan, memberi, membuang urusan, bersandar, dan bergantung". Secara umum, tawakkal berarti mempercayakan segala urusan seseorang pada Allah tergantung dari pengetahuan orang tersebut dan keyakinan yang kuat pada Ketuhanan dan Kekuasaan.
Dalil
“Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya”. (QS. Ali Imran: 159)
Contoh Perilaku
a. Selalu bersyukur jika mendapatkan nikmat dari Allah swt, dan bersabar apabila mendapatkan musibah.
b. Selalu berdoa dan menyerahkan diri atas apa yang kita usahakan sebelumnya.
c. Selalu berprasangka baik terhadap Allah SWT atas kejadian atau apa yang kita terima.
d. Tidak berkeluh kesah dan gelisah ketika berusaha dan berikhtiar.
e. Menyerahkan segala sesuatu hal terhadap Allah SWT setelah berusaha keras.
f. Selalu berusaha dan berikhtiar dengan maksimal, selanjutnya bertawakal kepada Allah swt.
g. Tidak mudah berputus asa dalam berusaha.
h. Menerima semua ketentuan Allah swt dengan rasa ikhlas dan ridha.
i. Ketika kita meninggalkan rumah, kita bertawakal kepada Allah SWT atas rumah yang kita tinggalkan.
j. Ketika kita mendapatkan suatu masalah, kita berserah diri kepada Allah SWT dan berdoa agar segera mendapatkan solusi dari masalah yang kita alami.
k. Berusaha memperoleh sesuatu yang dapat memberikan manfaat kepada orang lain.
Mahabbah
Cinta atau yang dikenal dalam bahasa Arab mahabbah berasal dari kata ahabba-yuhibbu-mahabbatan, yang secara bahasa berarti mencintai secara mendalam, kecintaan, atau cinta yang mendalam. Mahabbah adalah rasa cinta yang dimiliki oleh seseorang yang diwujudkan melalui kasih sayang dan ketulusan, baik dalam lingkup cinta hamba kepada Tuhannya maupun cinta seseorang terhadap siapa dan apapun, lebih khusus lagi, mahabbah dimaksudkan kepada rasa cinta seorang hamba kepada Tuhan melalui pengabdian dan amal-amal yang mengantarkannya untuk sampai kepada cintanya sang Ilahi.
Dalil
“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingantandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman, sangat besar cinta mereka kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).” (Al-Baqarah: 165)
“Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S Ali-'Imron: 31)
Contoh Perilaku
a. Pertama, seseorang meyakini bahwa Allah adalah zat terpuji dari segala sisi. Demikian juga sifat-Nya. Seseorang harus meyakini bahwa sifat Allah adalah sifat terpuji.
b. Kedua, seseorang meyakini bahwa Allah berbuat baik, memberikan nikmat, dan memberikan kemurahan kepada hamba-Nya.
c. Ketiga, seseorang meyakini bahwa kebaikan Allah terhadap hamba-Nya lebih besar daripada amal hamba-Nya baik dalam bentuk ucapan maupun tindakan ibadah kepada-Nya meski amal itu sempurna dan banyak.
d. Keempat, seseorang meyakini bahwa Allah memiliki sedikit tuntutan dan beban untuk hamba-Nya.
e. Kelima, seseorang dalam banyak waktunya harus takut dan khawatir atas keberpalingan Allah darinya dan pencabutan makrifat, tauhid, dan selain keduanya yang Allah anugerahkan kepadanya.
Komentar
Posting Komentar